“Fikri, kamu asli mana?”
“Ponorogo, Pak”
“Wah, Ponorogo ya, yang ada kampung idiotnya itu ya?
“Iya pak”
“dimana itu?kamu pernah kesana?”
“belum pak, tapi setahu saya itu berada di daerah perbatasan ponorogo-pacitan pak”
Begitulah perbincangan saya dengan dosen pembimbing saya, yang terhormat Bapak I Made Narsa ketika sedang ngobrol ringan pasca konsultasi skripsi, yah, sekitar 3 bulan yang lalu. Tiba-tiba bayangan singkat percekapan dengan salah satu orang hebat yang pernah saya temui itu membuncah kembali ketika hari ini, saya bersama rekan-rekan remaja Masjid Bathoro Katong Setono, mengadakan acara bakti sosial di tempat yang menjadi pokok pembicaraan saya dengan dosen saya itu, Kampung Idiot.
“Kampung Idiot” merupakan suatu kampung, dimana penduduknya sebagian besar menderita keterbelakangan mental akut alias Idiot. Wilayah ini tersebar di empat desa, yaitu Desa Karang Patihan, Pandak Krebet, dan Sidoharjo. Kawasan ini terletak sekitar 20-30 Km dari pusat kota Ponorogo. Di kawasan ini, hampir sebagian besar warganya menderita keterbelakangan mental akut alias IDIOT. Maka dari itu, kampung ini sering disebut dengan “kampung idiot”.
Beberapa waktu yang lalu, kampung ini seringkali muncul dalam berbagai pemberitaan di media, baik cetak maupun elektronik. Sehingga, mau tidak mau, pada akhirnya jutaan rakyat Indonesia tahu bahwasanya nun jauh di pelosok Jawa Timur sana, terdapat sebuah kampung yang membuat siapapun miris ketika berkunjung kesana. Betapa tidak, siapapun pasti sulit untuk membayangkan ketika dalam suatu kampung hampir seluruh penghuninya mengalalmi gangguan jiwa. Ya, mereka idiot. Keterbelakangan mental ini ditengarai akibat kemiskinan, gizi buruk dan perkawinan sedarah (incest) yang kerap kali terjadi di kampung ini. .
Alhamdulillah, dengan seizin Tuhan hari ini saya diberi kesempatan untuk berkunjung di salah satu kampung idiot ini, tepatnya di desa Karang Patihan, kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Bersama teman-teman dari Remaja Masjid Jami’ Bathoro Katong Setono, Jenangan, Ponorogo, kami berbaur dan berinteraksi dengan para penghuni kampung idiot ini. Sekalian, kami juga berbagi baju-baju bekas yang mungkin bagi orang jumlahnya tidak seberapa ini. Saya melihat dengan mata dan kepala saya sendiri bagaimana sebenarnya kondisi kampung idiot ini. Meskipun tidak keliling kampung secara penuh, disini terlihat jelas bagaimana potret social masyarakat kampung idiot ini. Adalah hal yang lumrah ketika kita melihat orang-orang idiot berjalan kesana-kemari berkeliaran dengan bertelanjang dada. Bahkan, ada diantara mereka yang sampai dipasung gara-gara kelakuannya yang liar. Ironisnya lagi, sebagian dari mereka juga hidup miskin. Mereka kebanyakan tinggal di rumah-rumah reyot berdindingan anyaman bambu. Jadi, mereka ini sudah idiot, miskin pula. What a sad truth!
Beruntunglah, ternyata masih ada beberapa manusia yang peduli dengan keberadaan ini. Salah satu sisi positif dari blow up media secara besar-besaran adalah datangnya perusahaan-perusahaan besar untuk melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) disini. Menurut, Pak Min, perangkat desa setempat, kampung ini sudah sering kedatangan bantuan dari phak-pihak luar, entah itu pemgusaha, korporasi, atau sekedar komunitas-komunitas sosial yang ingin mendermakan atau mendistribusikan bantuan-bantuan seadanya. Namun, rasanya, hal ini masih terasa kurang. Sepertinya perlu di bangun sebuah pusat rehabilitasi baga para idiot ini supaya mereka dapat sembuh, atau minimal, lebih terkontrol dari sebelumnya. Selain itu, tampaknya perlu pula dibangun semacam ‘kampung idiot crisis center’ untuk mengkoordinasikan bantuan ataupun pembinaan terhadap para penghuni kampung ini dan menjadi jembatan antara perwakilan masyarakat kampung idiot dan pemerintah (pusat maupun daerah) atau pihak-pihak luar yang berkenan untuk membantu kampun ini.
Bagi mereka yang berharta di luar sana, tengoklah saudara-saudaramu ini. Saudara-saudara kita di kampung terpencil ini butuh lebih dari sekedar keprihatinan, bukankah tidak ada ceritanya orang menjadi miskin gara-gara sedekah?Bukankah sedekah itu dapat menolak malapetaka (bala) dan memperpanjang umur?. Untuk pemerintah, lihatlah rakyatmu di kampung ini, jangan terlalu bangga dengan naiknya peringkat surat utang Indonesia menjadi Investment grade. Jangan terlalu sibuk untuk bersafari ke luar negeri dan menghambur-hamburkan uang rakyat. Jangan terlalu sibuk dengan politik pencitraan masing-masing. Jangan pula terbuai dengan fakta-fakta ekonomi di atas kertas yang seakan membuat kalian ini ‘terlihat’ sukses. Lihatlah mereka ini, mereka ini miskin, papa, dan IDIOT pula. Minimal, alokakasikanlah dana untuk pusat rehabilitasi bagi mereka para idiot ini. Dan saya rasa, ini tidak sulit. Membangun jembatan sepanjang 5 Km saja bisa apalagi ‘cuma’ membangun pusat rehabilitasi bagi mereka para idiot ini, bukankah begitu bapak dan ibu yang terhormat?. Jangan memandang bahwasanya tanggung jawab atas kampung idiot ini hanya dibebankan pada warga Ponorogo saja. Buang jauh-jaauh primordialisme dan etnosentrisme kalian, karena pada hakekatnya kita ini semua adalah saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia tercinta. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk peduli akan nasib saudara-saudara kita yang merana ini. Semoga bermanfaat.