
Sore itu, tetes-tetes air membasahi Surabaya yang terkenal panas itu. Rintik-rintik hujan ini seakan mendinginkan kota yang suhunya pernah menyentuh 35 derajat Celsius ini. Namun, beberapa kawanan manusia justru berceloteh,
“Ah, hujan nih ta**, mana belum makan pula, terus makan apa kalo ujan kek gini, mana udah perut udah keroncongan pula”
Ada pula yang berceloteh,
“Hasshhh, kenapa pake hujan, masih jauh pula dari rumah, mana gak bawa mantel pula, jan***”
Atau para muda-mudi yang sering mengeluh di saat hujan turun di malam minggu,
“Ya ampun, kenapa pake hujan sih????Jadwal kencan sama ayank berantakan gara-gara hujan, Dasar hujan sialan!!!!!”
Ya, begitulah ungkapan-ungkapan yang sering muncul dari mulut manusia tatkala rahmat Allah yang diturunkan melalui langit ini datang, terutama ketika rahmat Allah ini datang pada saat-saat yang tidak diinginkan. Manusia boleh dikatakan sering “kufur” nikmat atas rahmat Tuhan yang satu ini. Padahal, dalam kalamNya yang Agung, Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syuura ayat 28:
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syuura [41] : 28)
Demikian pula dalam Surat Qaaf ayat 9:
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf [50] : 9)
Dua dalil di atas rasanya cukup untuk menjelaskan bahwasanya hujan bukanlah sesuatu yang pantas untuk kita ratapi. Mungkin ada rekan-rekan berceloteh,”Ah, kamu ini letterlijk banget kalo nafsirin ayat, ayat ini kan turun di Arab yang notabene panasnya minta ampun?Lihat asbabun nuzul (seab turunnya ayat) juga dong”. Ketahuilah kawan, saya ini bukan ahli tafsir, dan saya tahu bahwasanya ayat ini turun di Arab yang notabene cuacanya panas sekali, tapi setahu saya, kedua ayat ini tidak di-nasakh (dihapuskan atau dibatalkan) oleh ayat yang lain (dalam ilmu tafsir, salah satu hal yang kita butuhkan adalah pemahaman atas nasikh mansukh, yang berasal dari kata dasar ‘nasakha’ yang menurut Ibnu Qudamah berarti Menghilangkan hukum yang ada dengan perkataan (dalil) yang dahulu, dengan perkataan yang datang setelahnya). Jadi, saya rasa, dalam kondisi apapun dan dimanapun, Hujan tetaplah rahmat dari Sang Khaliq. Dan rasanya, tidak pantas bagi kita untuk meratapinya secara berlebihan, apalagi berkata kotor dan mengutuk hujan tersebut.
Ada fakta lain yang seringkali kurang kita sadari ketika hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi ini. Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dalam sebuah Hadits:
“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2) Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun.”
Dalam hadits tersebut dijelaskan dengan gamblang bahwasanya salah satu waktu yang mustajabah untuk berdoa adalah ketika hujan turun, saya ulangi sekali lagi, SAAT HUJAN TURUN. Jado, mari kita berkaca lagi, Pantaskah kita meracau, nge-tweet, atau update status di fb guna mencela datangnya hujan, think twice guys!! barangkali akan sangat bijak apabila saat hujan kita isi dengan do’a-do’a supaya hajat atau apa yang kita cita-citakan ini terkabul, lebih baik bukan?sekali lagi, HUJAN terlalu ‘eman’ untuk diisi dengan racauan dan celaan yang tidak bermanfaat.
Saya jadi teringat ceramah ustadz yusuf mansyur beberapa waktu yang lalu berkaitan masalah hujan. Beliau bercerita akan pengalamannya ketika dulu masih menjadi penjual ayam potong keliling. Dahulu, ketika beliau sedang keliling untuk menjajakan dagangannya ke warung-warung, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Apa yang dilakukan sang Ustadz?berteduhkah?TIDAK, beliau justru menerjang hujan tersebut sembari berdo’a supaya hajat dan cita-citanya dikabulkan oleh Gusti Allah SWT. Dan dengan seizin Allah SWT, kehidupan beliau jauh lebih baik dan bermanfaat bukan?Subhanallah!
Beliau juga pernah bercerita, suatu ketika pondok pesantren miliknya diguyur hujan lebat, dan pada saat itu, yang dilakukan para santrinya adalah berdiam diri di dalam kamar saja. Seketika ustadz yusuf mansyur menyeru santriwan-santriwatinya yang masih anak-anak tersebut untuk keluar dari kamarnya. Untuk apa?diajak hujan-hujan dan nyebur ke empang!!!!Tampak sang ustadz begitu memahami psikologi anak-anak uang cenderung suka untuk bermain dikala hujan. Sang ustadz mengajak santri-santrinya tersebut berjalan mengelilingi pematang sawah, menceburkan diri ke empang, dan diakhiri dengan berdoa bersama dalam empang untuk memohon kepada Allah SWT supaya diberi kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Hasilnya, Sudah banyak anak didik ustadz satu ini yang berhasil menjadi hafidz dan PPPA Darul Qur’an juga sudah semakin besar dengan memiliki 3 ribuan santri. Once again, Subhanallah!!!!
Pada akhirnya, ada dua hal yang dapat disarikan dari tulisan saya kali ini. Pertama, jangan sekali-kila kita mencela atas turunnya hujan, karena hujan merupakan rahmat yang membawa berkah bagi seluruh alam semesta. Kedua, pada saat hujan, ada hal yang jauh lebih baik yang dapat kita lakukan daripada sekedar menggerutu dan mencela, apa itu?Absolutely, BERDO’A!Ya, saat-saat dimana hujan turun adalah saat yang mustajabah untuk berdo’a sebagaimana disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW.
Tulisan ini akan saya tutup dengan selarik penggalan Puisi karya Afra afifah yang bercerita tentang hujan sebagai berikut:
Aku mencintai hujan
karena suaranya menentramkan hati…
Aku mencintai hujan…
Karena melihatnya dibalik jendela rumahku yang basah,
mendatangkan kedamaian di hati
Aku mencintai hujan…
Karena ia adalah Rahmat dari Allah
…Rabbul Izzati…
(Ponorogo, 26 Desember 2011, M. Kanzul Fikri)

