Statistik Blog

Senin, 26 Desember 2011

Hujan, Rahmat yang Tidak Banyak Disadari



Sore itu, tetes-tetes air membasahi Surabaya yang terkenal panas itu. Rintik-rintik hujan ini seakan mendinginkan kota yang suhunya pernah menyentuh 35 derajat Celsius ini. Namun, beberapa kawanan manusia justru berceloteh,
“Ah, hujan nih ta**, mana belum makan pula, terus makan apa kalo ujan kek gini, mana udah perut udah keroncongan pula”
Ada pula yang berceloteh,
“Hasshhh, kenapa pake hujan, masih jauh pula dari rumah, mana gak bawa mantel pula, jan***”
Atau para muda-mudi yang sering mengeluh di saat hujan turun di malam minggu,
“Ya ampun, kenapa pake hujan sih????Jadwal kencan sama ayank berantakan gara-gara hujan, Dasar hujan sialan!!!!!”
Ya, begitulah ungkapan-ungkapan yang sering muncul dari mulut manusia tatkala rahmat Allah yang diturunkan melalui langit ini datang, terutama ketika rahmat Allah ini datang pada saat-saat yang tidak diinginkan. Manusia boleh dikatakan sering “kufur” nikmat atas rahmat Tuhan yang satu ini. Padahal, dalam kalamNya yang Agung, Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syuura ayat 28:
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syuura [41] : 28)
Demikian pula dalam Surat Qaaf ayat 9:
Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf [50] : 9)
Dua dalil di atas rasanya cukup untuk menjelaskan bahwasanya hujan bukanlah sesuatu yang pantas untuk kita ratapi. Mungkin ada rekan-rekan berceloteh,”Ah, kamu ini letterlijk banget kalo nafsirin ayat, ayat ini kan turun di Arab yang notabene panasnya minta ampun?Lihat asbabun nuzul (seab turunnya ayat)  juga dong”. Ketahuilah kawan, saya ini bukan ahli tafsir, dan saya tahu bahwasanya ayat ini turun di Arab yang notabene cuacanya panas sekali, tapi setahu saya, kedua ayat ini tidak di-nasakh (dihapuskan atau dibatalkan) oleh ayat yang lain (dalam ilmu tafsir, salah satu hal yang kita butuhkan adalah pemahaman atas nasikh mansukh, yang berasal dari kata dasar ‘nasakha’ yang menurut Ibnu Qudamah berarti Menghilangkan hukum yang ada dengan perkataan (dalil) yang dahulu, dengan perkataan yang datang setelahnya). Jadi, saya rasa, dalam kondisi apapun dan dimanapun, Hujan tetaplah rahmat dari Sang Khaliq. Dan rasanya, tidak pantas bagi kita untuk meratapinya secara berlebihan, apalagi berkata kotor dan mengutuk hujan tersebut.
Ada fakta lain yang seringkali kurang kita sadari ketika hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi ini. Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dalam sebuah Hadits:
“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2) Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun.”
Dalam hadits tersebut dijelaskan dengan gamblang bahwasanya salah satu waktu yang mustajabah untuk berdoa adalah ketika hujan turun, saya ulangi sekali lagi, SAAT HUJAN TURUN. Jado, mari kita berkaca lagi, Pantaskah kita meracau, nge-tweet, atau update status di fb guna mencela datangnya hujan, think twice guys!! barangkali akan sangat bijak apabila saat hujan kita isi dengan do’a-do’a supaya hajat atau apa yang kita cita-citakan ini terkabul, lebih baik bukan?sekali lagi, HUJAN terlalu ‘eman’  untuk diisi dengan racauan dan celaan yang tidak bermanfaat.
Saya jadi teringat ceramah ustadz yusuf mansyur beberapa waktu yang lalu berkaitan masalah hujan. Beliau bercerita akan pengalamannya ketika dulu masih menjadi penjual ayam potong keliling. Dahulu, ketika beliau sedang keliling untuk menjajakan dagangannya ke warung-warung, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Apa yang dilakukan sang Ustadz?berteduhkah?TIDAK, beliau justru menerjang hujan tersebut sembari berdo’a supaya hajat dan cita-citanya dikabulkan oleh Gusti Allah SWT. Dan dengan seizin Allah SWT, kehidupan beliau jauh lebih baik  dan bermanfaat bukan?Subhanallah!
Beliau juga pernah bercerita, suatu ketika pondok pesantren miliknya diguyur hujan lebat, dan pada saat itu, yang dilakukan para santrinya adalah berdiam diri di dalam kamar saja. Seketika ustadz yusuf mansyur menyeru santriwan-santriwatinya yang masih anak-anak tersebut untuk keluar dari kamarnya. Untuk apa?diajak hujan-hujan dan nyebur ke empang!!!!Tampak sang ustadz begitu memahami psikologi anak-anak uang cenderung suka untuk bermain dikala hujan. Sang ustadz mengajak santri-santrinya tersebut berjalan mengelilingi pematang sawah, menceburkan diri ke empang, dan diakhiri dengan berdoa bersama dalam empang untuk memohon kepada Allah SWT supaya diberi kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Hasilnya, Sudah banyak anak didik ustadz satu ini yang berhasil menjadi hafidz dan PPPA Darul Qur’an juga sudah semakin besar dengan memiliki 3 ribuan santri. Once again, Subhanallah!!!!
Pada akhirnya, ada dua hal yang dapat disarikan dari tulisan saya kali ini. Pertama, jangan sekali-kila kita mencela atas turunnya hujan, karena hujan merupakan rahmat yang membawa berkah bagi seluruh alam semesta. Kedua, pada saat hujan, ada hal yang jauh lebih baik yang dapat kita lakukan daripada sekedar menggerutu dan mencela, apa itu?Absolutely, BERDO’A!Ya, saat-saat dimana hujan turun adalah saat yang mustajabah untuk berdo’a sebagaimana disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW.
Tulisan ini akan saya tutup dengan selarik penggalan Puisi karya Afra afifah yang bercerita tentang hujan  sebagai berikut:
Aku mencintai hujan
karena suaranya menentramkan hati…
Aku mencintai hujan…
Karena melihatnya dibalik jendela rumahku yang basah,
mendatangkan kedamaian di hati
Aku mencintai hujan…
Karena ia adalah Rahmat dari Allah
…Rabbul Izzati…
(Ponorogo, 26 Desember 2011, M. Kanzul Fikri)

Tombo Ati Therapy ala Emha Ainun Nadjib

Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan
Kepada engkau yang menangis dalam rabun karena dikalahkan, karena disingkirkan, diusir, ditinggalkan
Atau kerena sangat-sangat susah untuk bertemu dengan yang namanya keadilan
Aku ingin bertamu menjenguk hatimu saudara2ku,
untuk mengajakmu istirah sejenak
Mengendapkan hati dan bernyanyi
Mengendapkan hati dan bernyanyi
Saudara-saudaraku sesama orang kecil di pinggir jalan
Sedulur-sdulurku di dusun-dusun di kampung-kampung perkotaan
Karib-karibkuku di gang-gang kotor di gubuk tepi sungai yang darurat
Atau mungkin saudara-saudaraku dirumah-rumah besar di kantor-kantor mewah,
namun memendam semacam keperihan diam-diam
Aku ajak engkau semua sahabat-sahabatku dan saudara-saudaraku untuk menarik nafas sejenak
Duduk bersandar, atau membaringkan badan
Kuajak kau menjernihkan pikiran
Untuk menata hati menemukan kesalahan-kesalahan kita semua untuk tidak kita ulangi lagi
Atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali
Ayolah saudara2, rileks . . .
Ilaahi lastu lil firdausi ahlan
Wa laa aqwa ‘alannaril jahiimi
Tombo ati iku onok 5 perkara
Kaping pisan moco Qur’an sak maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng ira ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo bisa ngelakoni
Insyaallah gusti pangeran ngijabahi
Semoga bermanfaat,. . . .

Saya Bangga Jadi Orang Ponorogo

"Mas, asalnya dari mana??"
"Dari Ponorogo"
"Wah, yang terkenal dengan kampung idiotnya itu ya???yang UMR nya terendah di Jawa Timur itu ya??"
"?@#$%^&&**^%$"

Setiap orang ponorogo pasti sering dikait-kaitkan dengan dua pertanyaan terakhir dari perbincangan di atas, karena faktanya memang demikian, Ponorogo hanyala kota kecil dengan UMR terendah di Jawa Timur, yang ironisnya, juga terkenal dengan keberadaan kampung idiot yang menjadi santapan empuk dan di blow up secara terang-terangan oleh media. Dengan gambaran sekilas seperti itu, pasti orang manapun enggan untuk mengunjungi, atau bahkan hanya sekedar tahu lebih dalam dari kota yang sebenarnya sangat indah dan ramah ini.

Ya, Sang Pencipta telah menganugerahkan Ponorogo dengan keindahan alam yang luar biasa. Jika anda berkunjung ke Ponorogo, tidak lengkap rasanya jika anda tidak mampir ke Telaga Ngebel, sebuah spot wisata yang cukup terkenal di Ponorogo. Di sana terhampar sebuah telaga yang indah yang sangat layak untuk dikunjungi, karena, disamping menawarkan keindahan panorama berupa perpaduan antara jernihnya telaga dan keindahan alam pegunungan, pengunjung juga akan disuguhi dengan sejuknya udara dingin khas pegunungan serta sajian kuliner yang tak kalah khas, yaitu Ikan bakar segar fresh dari telaga yang lezat.

Di samping itu, Ponorogo juga masih memiliki potensi lain yang juga sangat layak untuk dikunjungi, yaitu Air aterjun Plethuk. Air terjun Plethuk merupakan sebuah air terjun yang indah yang terletak di kecamatan Sooko, sebuah dataran tinggi di kawasan Ponorogo. Di sana terdapat air terjun dengan aliran yang cukup besar dan deras dengan panorama yang indah. Wisata ini juga belum banyak terjamah manusia, sehingga tingkat kealamiannya masih cukup terjaga.

Selain wisata alam, Ponorogo juga dikenal melalui wisata budaya. Setiap tahun, Ponorogo mengadakan festival Grebeg Suro yang terdiri dari berbagai macam agenda, seperti kirab pusaka, festival reog, dll. Siapa yang tidak kenal Reyog Ponorogo?Ya, dalam pagelaran rutin tahuna festival Grebeg Suro inilah, Festival Reyog Nasional juga turut diadakan. Pesertanya pun juga datang dari seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, cukup menarik bukan?

Ada fakta lain yang menarik ketika berbicara mengenai Ponorogo. Ternyata, di Ponorogo juga terdapat Pondok Modern berskala internasional yang sudah banyak melahirkan tokoh penting di negeri ini. Pondok Modern Darussalam Gontor, begitulah lembaga pendidikan ini biasa disebut. Sudah banyak alumninya yang menjadi 'orang penting' dan berpengaruh di negeri Indonesia tercinta ini, sebut saja KH Hasyim Muzadi (Mantan Ketua Umum PBNU), Dien Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), atau barangkali yang suka novel, Penulis Novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, Ahmad Fuadi juga pernah menuntut ilmu di Pondok yang terletak di desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo.


So, berdasarkan fakta-fakta yang dipaparkan di atas, Apakah anda masih memandang remeh Ponorogo?Dan untuk warga asli ponorogo, apakah anda malu menjadi Ponorogo?Tentu jawabannya adalah tidak. Dan saya pun selamanya tidak akan pernah malu untuk mengakui bahwa Ponorogo adalah warga Ponorogo.
IKI LHO DLONDONGE WONG PONOROGO!