Statistik Blog

Kamis, 29 Maret 2012

Mahasiswa atau Minisiswa?


Akhir-akhir ini masyarakat di Indonesia gempar akibat rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diletupkan pemerintah per tanggal 1 April 2012. Berbagai pro dan kontra muncul akibat kebijakan pemerintah yang satu ini. Pihak yang pro beranggapan bahwa kenaikan BBM adalah suatu yang mutlak, karena harga minyak dunia saat ini sudah jauh melambung melampaui batas yang di asumsikan oleh anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN). Sementara pihak yang kontra berdalih bahwasanya tidak seharusnya BBM naik karena kenaikan BBM hanya akan menyengsarakan rakyat kecil. Salah satu pihak yang paling getol menolak kenaikan BBM adalah dari kalangan Mahasiswa. Mahasiswa, Selapis tipis manusia penghuni puncak piramida struktur pendidikan di Indonesia ini mulai turun ke jalan, melakukan demonstrasi menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM tersebut.
            Dalam aksi demo yang mereka lakukan, tak jarang sselalu berakhir dengan anarkisme. Mereka tak segan untuk memblokade jalan, membakar ban bekas, merusak fasilitas umum/pemerintah (seperti yang dilakukan mahasiswa di medan dengan melempari bandara polonia dan mahasiswa di jakarta yang merusak mobil polisi) , bentrok dengan aparat, bahkan hingga melempari pengendara sepeda motor di jalan. Terlepas dari Pro dan Kontra masalah kenaikan harga BBM, aksi-aksi mahasiswa yang kurang simpatik ini tentu mengundang kecaman dari berbagai pihak, termasuk rakyat Indonesia sendiri. Mahasiswa yang dididik untuk menjadi seorang intelektual itu bertindak tak lebih dari seorang preman yang sedang mengacau disana-sini, atau dari sudut pandang saya pribadi, mereka yang brutal itu adalah mereka yang telah mengkhianati rakyat Indonesia itu sendiri. Bagaimana tidak?Mereka mengaku memperjuangkan aspirasi rakyat, tapi di lain pihak mereka memblokade jalan yang dibangun pemerintah sebagai sarana transportasi yang ditujukan untuk rakyat, dengan kata lain mereka telah merampas hak rakyat. Mereka mengaku memperjuangkan kepentingan rakyat, namun ternyata mereka justru merusak fasilitas-fasilitas umum yang dibangun dari uang rakyat dan ditujukan untuk kepentingan rakyat. Mereka berdemo atas nama rakyat, namun kemudian merusak mobil dinas yang dibeli juga dari uang rakyat. Mereka mengaku berjuang atas nama rakyat akan tetapi mereka melempari rakyat pengendara sepeda motor yang tak berdosa itu. Mereka mengaku menjadi penyambung lidah rakyat, tapi mereka menggunakan ban bekas yang dibakar untuk menutup jalan milik rakyat, yang asapnya telah merampas hak rakyat untuk memperoleh udara yang bersih. Itukah yang disebut menyampaikan aspirasi rakyat?Itukah yang disebut Mahasiswa? Yang oleh banayak orang awam dianggap sebagai kalangan intelektual muda, kalangan terdidik dan terpelajar, atau kalangan berperadaban tinggi. Maka dari itu, lantas timbul semacam enigma dalam diri saya, mereka ini Mahasiswa, atau Minisiswa (Minisiswa dalam istilah saya ini adalah siswa playgroup yang merengek-rengek dan membanting apapun yang dipegangnya jika kemauannya tak dituruti)
            Jikalau anda memang benar-benar mahasiswa, tunjukkan cara yang lebih elegan dengan meunjukkan kapasitas intelektual anda, bisa melalui tulisan atau  dialog-dialog yang berkualitas (karena memang sebenarnya mahasiswa dididik untuk hal ini, bukan untuk angkat batu). Tak perlulah rasanya seorang mahasiswa ikut turun ke jalan jika motifnya hanya untuk membuat kekacauan. Mahasiswa yang baik itu adalah mahasiswa yang melek hukum bukan justru berteriak-teriak agar ditegakkannya supremasi hukum melalui tindakan yang justru melanggar hukum dan anarkis.  Demo boleh, asal anda jangan melanggar hukum, merusak fasilitas-fasilitas umum, mengganggu hak-hak orang lain, terlebih jika anda mengaku bertindak atas nama rakyat. Apakah anda yakin bahwa rakyat merasa terbantu atas tindakan anda  yang merusak itu?Jika anda memang bangga dengan tindakan merusak seperti itu gara-garu kemauan anda tidak dituruti, sekali lagi saya tanya pada anda, Anda ini Mahasiswa atau Minisiswa?Yang besar badannya saja tapi mini otaknya?

Selasa, 03 Januari 2012

Sisi Lain: Nestapa Kampung Idiot


“Fikri, kamu asli mana?”
“Ponorogo, Pak”
“Wah, Ponorogo ya, yang ada kampung idiotnya itu ya?
“Iya pak”
“dimana itu?kamu pernah kesana?”
“belum pak, tapi setahu saya itu berada di daerah perbatasan ponorogo-pacitan pak”
Begitulah perbincangan saya dengan dosen pembimbing saya, yang terhormat Bapak I Made Narsa ketika sedang ngobrol ringan pasca konsultasi skripsi, yah, sekitar 3 bulan yang lalu. Tiba-tiba bayangan singkat percekapan dengan salah satu orang hebat yang pernah saya temui itu membuncah kembali ketika hari ini, saya bersama rekan-rekan remaja Masjid Bathoro Katong Setono, mengadakan acara bakti sosial di tempat yang menjadi pokok pembicaraan saya dengan dosen saya itu, Kampung Idiot.
“Kampung Idiot” merupakan suatu kampung, dimana  penduduknya sebagian besar menderita keterbelakangan mental akut alias Idiot. Wilayah ini  tersebar di empat desa, yaitu Desa Karang Patihan, Pandak   Krebet,  dan Sidoharjo. Kawasan ini terletak sekitar 20-30 Km dari pusat kota Ponorogo. Di kawasan ini, hampir sebagian besar warganya menderita keterbelakangan mental akut alias IDIOT. Maka dari itu, kampung ini sering disebut dengan “kampung idiot”.
Beberapa waktu yang lalu, kampung ini seringkali muncul dalam berbagai pemberitaan di media, baik cetak maupun elektronik. Sehingga, mau tidak mau, pada akhirnya jutaan rakyat Indonesia tahu bahwasanya nun jauh di pelosok Jawa Timur sana, terdapat sebuah kampung yang membuat siapapun miris ketika berkunjung kesana. Betapa tidak, siapapun pasti sulit untuk membayangkan ketika dalam suatu kampung hampir seluruh penghuninya mengalalmi gangguan jiwa. Ya, mereka idiot. Keterbelakangan mental ini ditengarai akibat kemiskinan, gizi buruk dan perkawinan sedarah (incest) yang kerap kali terjadi di kampung ini. .
Alhamdulillah, dengan seizin Tuhan hari ini saya diberi kesempatan untuk berkunjung di salah satu kampung idiot ini, tepatnya di desa Karang Patihan, kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Bersama teman-teman dari Remaja Masjid Jami’ Bathoro Katong Setono, Jenangan, Ponorogo, kami berbaur dan berinteraksi dengan para penghuni kampung idiot ini. Sekalian, kami juga berbagi baju-baju bekas yang mungkin bagi orang jumlahnya tidak seberapa ini. Saya melihat dengan mata dan kepala saya sendiri bagaimana sebenarnya kondisi kampung idiot ini.  Meskipun tidak keliling kampung secara penuh, disini terlihat jelas bagaimana potret social masyarakat kampung idiot ini. Adalah hal yang lumrah ketika kita melihat orang-orang idiot berjalan kesana-kemari berkeliaran dengan bertelanjang dada. Bahkan, ada diantara mereka yang sampai dipasung gara-gara kelakuannya yang liar. Ironisnya lagi, sebagian dari mereka juga hidup miskin. Mereka kebanyakan tinggal di rumah-rumah reyot berdindingan anyaman bambu. Jadi, mereka ini sudah idiot, miskin pula. What a sad truth!
Beruntunglah, ternyata masih ada beberapa manusia yang peduli dengan keberadaan ini. Salah satu sisi positif dari blow up media secara besar-besaran adalah datangnya perusahaan-perusahaan besar untuk melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) disini. Menurut, Pak Min, perangkat desa setempat, kampung ini sudah sering kedatangan bantuan dari phak-pihak luar, entah itu pemgusaha, korporasi, atau sekedar komunitas-komunitas sosial yang ingin mendermakan atau mendistribusikan bantuan-bantuan seadanya. Namun, rasanya, hal ini masih terasa kurang. Sepertinya perlu di bangun sebuah pusat rehabilitasi baga para idiot ini supaya mereka dapat sembuh, atau minimal, lebih terkontrol dari sebelumnya. Selain itu, tampaknya perlu pula dibangun semacam ‘kampung idiot crisis center’ untuk mengkoordinasikan bantuan ataupun pembinaan terhadap para penghuni kampung ini dan menjadi jembatan antara perwakilan masyarakat kampung idiot dan pemerintah (pusat maupun daerah) atau pihak-pihak luar yang berkenan untuk membantu kampun ini.
Bagi mereka yang berharta di luar sana, tengoklah saudara-saudaramu ini. Saudara-saudara kita di kampung terpencil ini butuh lebih dari sekedar keprihatinan, bukankah tidak ada ceritanya orang menjadi miskin gara-gara sedekah?Bukankah sedekah itu dapat menolak malapetaka (bala) dan memperpanjang umur?. Untuk pemerintah, lihatlah rakyatmu di kampung ini, jangan terlalu bangga dengan naiknya peringkat surat utang Indonesia menjadi Investment grade. Jangan terlalu sibuk untuk bersafari ke luar negeri dan menghambur-hamburkan uang rakyat. Jangan terlalu sibuk dengan politik pencitraan masing-masing. Jangan pula terbuai dengan fakta-fakta ekonomi di atas kertas yang seakan membuat kalian ini ‘terlihat’ sukses. Lihatlah mereka ini, mereka ini miskin, papa, dan IDIOT pula. Minimal, alokakasikanlah dana untuk pusat rehabilitasi bagi mereka para idiot ini. Dan saya rasa, ini tidak sulit. Membangun jembatan sepanjang 5 Km saja bisa apalagi ‘cuma’ membangun pusat rehabilitasi bagi mereka para idiot ini, bukankah begitu bapak dan ibu yang terhormat?. Jangan memandang bahwasanya tanggung jawab atas kampung idiot ini hanya dibebankan pada warga Ponorogo saja. Buang jauh-jaauh primordialisme dan etnosentrisme kalian, karena pada hakekatnya kita ini semua adalah saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia tercinta. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk peduli akan nasib saudara-saudara kita yang merana ini. Semoga bermanfaat.